Jumat, 10 Januari 2014

TULISAN 14




DEFINISI KOMUNIKASI
Komunikasi diartikan sebagai proses pemindahan dalam gagasan atau informasi seseorang ke orang lain. Komunikasi dapat menghubungkan antara bagian yang berbeda atau disebut rantai pertukaran informasi. Hal ini mengandung unsure-unsur:
1)       Sebagai kegiatan untuk seseorang mengatur
2)       Sebagai saran pengendalian informasi
3)       Sebagai system terjalinnya komunikasi diantara individu-individu

PENGIRIM                           BERITA                  PENERIMA
 
Modal yang paling sederhana adalah modal komunikasi antar pribadi






 
                       

Hambatan-hambatan dalam Komunikasi
1. Hambatan Organisasional:
a.       Tingkatan Hieararki:                   
b.      Wewenang Manajerial:
c.       Spesialisasi
2.      Hambatan antar pribadi:
            Kesalahan dalam komunikasi juga dipengaruhi oleh faktor ketidaksempurnaan manusia dan bahasa. Maka perlu memperhatikan:
a.       Persepsi selektif
b.      Kedudukan komunikator
c.       Keadaan membela diri
d.      Pendengaran lemah
e.       Ketidaktepatan penggunaan bahasa

SUMBER :
·         Robbins, Stepehen P. Managing Today, 2nd Ed, Prentice Hall, 2000
·         Stoner, James A.F., et al., Management, 6th Ed., Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs, 1995
·         K, Soekarno. (1986). Dasar Dasar Manajemen. Jakarta : Miswar

TULISAN 13




CONFLICT
      Menurut Stoner Konflik (dalam  organisasi ialah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi, atau kepribadian. (Wahyudi,       2006:17).

Ciri – ciri  conflict ( wijuno ):
a.       Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu  interaksi yang saling bertentangan.
b.      Paling tidak timbul pertentangan antara dua pihak secara perseorangan maupun kelompok dalam mencapai tujuan, memainkan peran dan ambigius atau adanya nilai-nilai atau norma yang saling berlawanan
c.       Munculnya interaksi yang seringkali ditandai dengan gejala-gejala perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapat memperoleh keuntungan seperti: status, jabatan, tanggung jawab, pemenuhan berbagai macam kebutuhan fisik: sandang- pangan, materi dan kesejahteraan atau tunjangan-tunjangan tertentu: mobil, rumah, bonus, atau pemenuhan kebutuhan sosio-psikologis seperti: rasa aman, kepercayaan diri, kasih, penghargaan dan aktualisasi diri.
d.      Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut larut.
e.       Munculnya ketidakseimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan.

Tahapan-Tahapan Perkembangan kearah
terjadinya Konflik :
1.      Konflik masih tersembunyi (laten) berbagai macam kondisi emosional yang dirasakan sebagai hal yang biasa dan tidak dipersoalkan sebagai hal yang mengganggu dirinya.
2.      Konflik yang mendahului (antecedent condition) tahap perubahan dari apa yang dirasakan secara tersembunyi yang belum mengganggu dirinya, kelompok atau organisasi secara keseluruhan, seperti timbulnya tujuan dan nilai yang berbeda, perbedaan peran dan sebagainya.
3.      Konflik yang dapat diamati (perceived conflicts) dan konflik yang dapat dirasakan (felt conflict) muncul sebagai akibat antecedent condition yang tidak terselesaikan.
4.      Konflik terlihat secara terwujud dalam perilaku (manifest behavior) upaya untuk mengantisipasi timbulnya konflik dan sebab serta akibat yang ditimbulkannya; individu, kelompok atau organisasi cenderung melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri melalui perilaku.
5.      Penyelesaian atau tekanan konflik pada tahap ini, ada dua tindakan yang perlu diambil terhadap suatu konflik, yaitu penyelesaian konflik dengan berbagai strategi atau sebaliknya malah ditekan.
6.      Akibat penyelesaian konflik jika konflik diselesaikan dengan efektif dengan strategi yang tepat maka dapat memberikan kepuasan dan dampak positif bagi semua pihak. Sebaliknya bila tidak, maka bisa berdampak negatif terhadap kedua belah pihak sehingga mempengaruhi produkivitas kerja.
SUMBER :
·         Robbins, P. Stephen & Coulter Marry. 2007. Manajemen. Edisi 8. Jakarta: Indeks
·         Neubert, Dyck, (2009, 2007), Principles Of  Management, South-Western

TULISAN IX




PROSES PENGAWASAN
Proses pengendalian mulai dengan perencanaan dan pembangunan tujuan penampilan kerja. Tujuan penampilan didefinisikan dan standar-standar untuk mengukurnya disusun. Ada 2 tipe standar:
1.      Standar out-put (keluaran): mengukur hasil-hasil tampilan dalam istilah kuantitas, kualitas, biaya atau waktu
2.      Standar in-put (masukan):  mengukur usaha-usaha kerja yang masuk ke dalam tugas penampilan.

Terdiri dari lima tahapan proses , yaitu:
1.      Penetapan standar pelaksanaan
2.       Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
3.       Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata
4.      Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan
5.      Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan

JENIS PENGAWASAN
a.       Pengawasan fungsiomal (struktural). Fungsi pengawasan ini melekat pada seseorang yang menjabat sebagai pimpinan lembaga.
b.      Pengawasan publik. Pengawasan ini dilakukan oleh masyarakat.
c.       Pengawasan non fungsional. Pengawasan ini biasanya dilakukan oleh badan-badan yang diberikan wewenang untuk melakukan pengawasan seperti DPR, BPK, KPK, dan lain-lain.

SUMBER :
·         Robbins, P. Stephen & Coulter Marry. 2007. Manajemen. Edisi 8. Jakarta: Indeks
·         Neubert, Dyck, (2009, 2007), Principles Of  Management, South-Western